Hasindo Utama | Distributor Grosir Jual Segala Jenis Alat Packing

Distributor Grosir Jual Segala Jenis Alat Packing dengan Harga Murah dan Berkualitas - Tali Straping - Mesin Straping - Masking Tape - Lakban - Lem Fulloc - Stretch Film - Paku Tembak - Paku Refill

Jual Tali Straping, Mesin Straping, Masking Tape, Lakban Bening, Lakban Kertas, Jual Lakban Opp Tape Murah, Lakban Masking Tape di jakarta, Plastik Wrapping, Lem Fulloc, Stretch Film, Paku Tembak, Paku Refill

Mendidik dengan Cermin
Friday, 21 March 2014

Mendidik dengan Cermin


Jual Lem Murah - Sistem pendidikan Indonesia dan kurikulumnya, menjadi polemik yang terus menerus dibahas dan diperdebatkan hingga saat ini. Seolah sulit menemui titik temu, revisi demi revisi sistem pendidikan senantiasa diupayakan untuk menyesuaikan pekembangan dan kebutuhan zaman. Hujatan dan kritikan pedas terhadap pemerintah dan segala upayanya dalam memajukan pendidikan negeri ini adalah makanan sehari-hari yang biasa kita temukan baik di media maupun media sosial. Fenomena ini membuat sebagian besar orang ikut emosi dan mengutuki, atau bahkan sebagian lain malah menjadi apatis dan tidak mau tahu. 

Saya sendiri, lebih suka menyalakan lilin dalam diam daripada mengutuki kegelapan. Atau, jika menggunakan bahasa Pak Anies Baswedan, #turuntangan. Karena tidak akan ada solusi maupun masa depan yang lebih baik, jika setiap masalah diatasi dengan mencaci, menyalahkan pihak lain dan keadaan, namun tidak mau merefleksi diri dan mengupayakan perubahan.Padahal, pendidikan dan mendidik, sejatinya bukan hanya tugas pemerintah saja. 

Mendidik dan menjadi terdidik adalah tugas bagi setiap manusia yang hidup dan berakal. 

Baik itu dalam lingkup paling kecil seperti mendidik diri sendiri, mendidik istri/suami, mendidik anak, mendidik keluarga, mendidik bawahan, mendidik masyarakat, dan lain sebagainya. Berdasarkan UU SISDIKNAS No . 20 tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Maka, pendidikan sejatinya bukan melulu hanya tugas pemerintah, bukan hanya Menteri & Kementrian Pendidikan. 

Pendidikan adalah suatu “usaha sadar” yang merupakan tugas saya dan Anda, kita semua. Seluruh rakyat Indonesia secara bersama-sama. Pendidikan, adalah tugas pertama di dalam kehidupan. Di dalam agama Islam yang saya yakini, bahkan kata pertama yang diturunkan Tuhan sebagai wahyu adalah “Iqra! ”, “Bacalah”. Membaca dan belajar untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas diri secara sadar dan aktif, bukan karena paksaan, sekadar “kewajiban”, atau demi iming-iming nilai bagus atau imbalan tertentu. Padahal, tidak ada yang lebih diuntungkan dari orang yang melakukan suatu “usaha sadar” untuk mengembangkan dirinya sendiri selain dirinya sendiri.

Jual Lem MurahSejujurnya, saya sungguh heran. Ibaratnya orang yang mencari makan karena ia lapar, mencari minum karena ia haus, atau mencari harta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mengapa masih ada saja orang yang tidak mau mengupayakan secara sadar untuk terus belajar dan terus meningkatkan kapasitas dirina., Konteks pendidikan yang saya bicarakan di sini bukan hanya tentang sekolah. Karena bagi saya, sekolah hanyalah sarana. Yang dicari sesungguhnya adalah ilmu serta meningkatnya kompetensi dan kualitas diri. Sesuai dengan yang diamanatkan dalam Undang Undang, tujuan pendidikan adalah agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk 
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. 

Maka, sampai di sini, yang menjadi pertanyaan adalah: munculnya berbagai fenomena dan isu yang merebak saat ini mulai dari anak malas belajar, bullying, sex bebas, kekerasan, tawuran, dan sebagainya, sesungguhnya salah siapa? Apakah pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan yang tidak becus, globalisasi dan internet bebas yang semakin merajalela, anak-anaknya yang bandel karena pengaruh lingkungan sekitarnya, tidak berkualitasnya guru-guru yang mengajar anaknya, ataukah kita, sebagai orangtua, yang melakukan kesalahan dalam mendidik mereka?

Sebelum mulai menyalahkan pihak-pihak lain dan meluncurkan hujatan, melalui tulisan ini saya hendak mengajak kitasemua bercermin bersama-sama. Merefleksi dengan jujur, berpikir dengan jernih, dan merasakan dengan hati. Bersama-sama menyelami lebih dalam kepada diri sendiri, sebelum menghakimi. Bagaimanapun, satu-satunya manusia di dunia yang dapat kita kontrol adalah diri sendiri. Jangan mengharapkan perubahan dari siapapun dan institusi apapun, sebelum kita bisa dan berhasil mengubah diri sendiri. Jangan menggantungkan harapan selain kepada Tuhan untuk memampukan diri sendiri. Karena hanya dengan berpikir begitulah kita akan menjadi proaktif alih-alih reaktif. Menjadi penggerak perubahan alih-alih mengutuki kegelapan dan tidak membuat satu pun perbaikan.

Pertama-tama, saya ingin mengajak Anda untuk mengambil nafas sejenak, merilekskan jari jemari, menjernihkan pikiran, merasakan keberadaan diri sendiri dengan lebih sadar, dan keluar dari kotak pembahasan sebentar. Saya ingin bertanya kepada Anda terlebih dahulu tentang satu hal mendasar sebelum masuk ke dalam konteks pendidikan. Sesungguhnya, siapakah manusia dan apa hal penting yang membedakan dirinya dengan makhluk lainnya yang hidup di dunia? Saya, Anda, anak-anak kita, murid-murid kita, teman-teman kita, memliki dua hal yang sama, selain tentu saja wujud fisik yang membungkusnya. Yakni otak dan hati. Pemikiran dan jiwa. Aspek dasar manusia, sejatinya hanya 3 hal sederhana: fisik, otak, dan hati. Dan ketika kita berbicara mengenai mengembangkan seorang manusia, maka ketiga hal inilah yang seharusnya menjadi tujuan utama untuk dikembangkan. 

Pengembangan otak atau kemampuan berpikir, dalam ranah psikologi disebut kemampuan kognitif. Hati atau kualitas jiwa, yang disebut dalam ranah psikologi dipecah menjadi afeksi dan psikososial. Serta kualitas dan kebugaran fisik. Inti dari proses pendidikan seharusnya adalah pengembangan otak, hati, dan fisik sekaligus. Namun sayangnya, seringkali kita hanya berfokus kepada pengembangan otak atau aspek kognisi dan mungkin fisik, namun melupakan sebuah aspek yang sesungguhnya jauh lebih penting: hati, jiwa, atau ruh. Poin penting yang membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya. Poin penting yang seharusnya menjadi sumber kekuatan luar biasa, atau sumber segala masalah yang ada.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah dan intitusi-institusi pendidikan, namun juga di rumah-rumah yang sesungguhnya merupakan madrasah utama. Maka gejala-gejala kerusakan pun bermunculan. Narkoba, seks bebas, tawuran, penyimpangan seksual, dan lain sebagainya. Semua ini sesungguhnya bermula dari ketiadaan kesadaran jiwa, ruh yang kosong, ketiadaan tujuan dalam kehidupan, kasih sayang yang kurang dari kedua orangtua, hati yang mungkin kotor dan terluka. Entah karena orangtua, guru, maupun teman sebaya. Maka hal-hal yang menghadirkan “kesenangan sementara” itulah yang menjadi obat yang “salah” dari kekosongan yang ada.

Pengembangan kognitif, psikososial, dan afeksi ini secara komprehensif di dalam kurikulum sesungguhnya sudah dikembangkan dengan baik pada pendidikan anak usia dini. Namun yang disayangkan, begitu masuk ke usia SD, SMP, SMA, seringkali guru-guru sudah lupa akan adanya kebutuhan dasar manusia yang holistik ini. Kemampuan kognitif adalah tolok ukur utama. Maka manusia-manusia pengejar “nilai” tanpa menyadari adanya proses penting pengembangan kapasitas diri dalam proses belajar pun menjadi bermunculan. 

Saya sejujurnya salut, dengan kurikulum 2013 yang berupaya menyentuh aspek karakter dan perilaku, hanya saja patut disayangkan kurikulum ini tidak jadi diberlakukan karena ketidaksiapan guru-guru pengajar. Berpikir secara sistem dan holistik ketika membicarakan sistem pendidikan ini, sebaiknya tidak hanya diterapkan ketika berbicara mengenai konten materi pendidikan, namun juga ketika membicarakan siapa subyek yang harus melakukan resolusi mental. 


Kita tidak bisa mengharapkan hanya anak-anak didik yang berubah dan melakukan revolusi mental.

Jual Lem MurahNamun seluruh lapisan harus bersama-sama melakukan revolusi mental, terutama 4 pilar utama yang memegang peranan kritis dalam perubahan ini: guru, orangtua, pemuda, dan anak usia dini. Maka dari itu, mulai saat ini, sebelum kita mengkritisi dan mencaci berbagai macam institursi, marilah kita bercermin dan merefleksi diri sendiri terlebih dahulu: sudahkah diri kita, menjadikan diri kita sendiri seorang insan yang baik, dan mendidik dengan baik, orang-orang terdekat di sekeliling kita? Karena sungguh, sebuah perubahan dan revolusi mental secara massif tidak akan tercipta, jika orang per orang yang akan menggerakkan perubahan itu, justru enggan dan tidak mau memperbaiki dan mengubah diri sendiri.

Jika berkenan, mohon bantuannya untuk memberi vote Google + untuk halaman ini dengan cara mengklik tombol G+ di samping. Jika akun Google anda sedang login, hanya dengan sekali klik voting sudah selesai. Terima kasih atas bantuannya.
Judul: Mendidik dengan Cermin; Ditulis oleh Hasindo Utama; Rating Blog: 5 dari 5

No comments:

Post a Comment

Template oleh Jual Alat Packing - Support Jual Lakban Murah
Kami melayani penjualan di Daerah Kota #JawaBarat #Bandung #BandungBarat #Bekasi #Bogor #Ciamis #Cianjur #Cirebon #Garut #Indramayu #Karawang #Kuningan #Majalengka #Pangandaran #Purwakarta #Subang #Sukabumi #Sumedang #Banjar #Bekasi #Cimahi #Cirebon #Depok #Sukabumi #Tasikmalaya #JawaTengah #Banjarnegara #Banyumas #Batang #Blora #Boyolali #Brebes #Cilacap #Demak #Grobogan #Jepara #Karanganyar #Kebumen #Klaten #Kudus #Magelang #Pati #Pekalongan #Pemalang #Purbalingga #Purworejo #Rembang #Semarang #Sragen #Sukoharjo #Tegal #Temanggung #Wonogiri #Wonosobo #Magelang #Pekalongan #Salatiga #Semarang #Surakarta #Tegal #JawaTimur #Bangkalan #Banyuwangi #Blitar #Bojonegoro #Bondowoso #Gresik #Jember #Jombang #Kediri #Lamongan #Lumajang #Madiun #Magetan #Malang #Mojokerto #Nganjuk #Ngawi #Pacitan #Pamekasan #Pasuruan #Ponorogo #Probolinggo #Sampang #Sidoarjo #Situbondo #Sumenep #Sumenep #Tuban #Tulungagung #Batu #Blitar #Malang #Mojokerto #Pasuruan #Probolinggo #Surabaya #Jakarta #KepulauanSeribu #Jakarta #Barat #Pusat #Selatan #Timur #Utara #banten #Lebak #Pandeglang #Serang #Tangerang #Cilegon #Serang #Tangerang #TangerangSelatan #Bantul #GunungKidul #KulonProgo #Sleman #Yogyakarta #Sumatera #Aceh #BandaAceh #SumateraUtara #Medan #SumateraBarat #Padang #Riau #Pekanbaru #Jambi #SumateraSelatan #Palembang #Bengkulu #Lampung #BandarLampung #KepulauanBangkaBelitung #PangkalPinang #KepulauanRiau #TanjungPinang #Kalimatan #KalimantanBarat #Pontianak #KalimantanTengah #PalangkaRaya #KalimantanSelatan #Banjarmasin #KalimantanTimur #Samarinda #KalimantanUtara #TanjungSelor #Sulawesi #SulawesiUtara #Manado #SulawesiTengah #Palu #SulawesiSelatan #Makassar #SulawesiTenggara #Kendari #SulawesiBarat #Mamuju #Gorontalo #SundaKecil #Bali #Denpasar #NusaTenggaraTimur #Kupang #NusaTenggaraBarat #Mataram #lombok #cina #Jepang